I spent the last day of my 3 days Kansai trip strolling around my favorite city: Kyoto. Kyoto served as Japan’s capital and also emperor’s residence on 794-1868. During the world war II  Kyoto preserved from air bombing due to the historical value of the city. If you want to have the taste of Japanese culture I highly recommend you to visit Kyoto. Lots of shrines, temples, historical buildings, and also Geisha you can spotted there.

Saya menghabiskan hari terakhir 3 hari Kansai trip di kota favorit saya: Kyoto. Kyoto memegang peran sebagai ibukota dan kediaman kaisar pada tahun 794-1868. Semasa perang Kyoto luput dan dijaga dari serangan udara karena memiliki banyak bangunan bersejaran. Jika anda ingin merasakan suasana budaya Jepang yang kental, Kyoto adalah pilihan yang tepat. Anda dapat menemukan banyak kuil, bangunan bersejarah, hingga Geisha yang ada bisa lihat bersliweran di daerah tertentu.

 

My first destination is Nishiki market which located only 10 minutes walks from my capsule hotels. Nishiki market ((錦市場, Nishiki Ichiba) is a 5 blocks alley full of stores. More than 100 stores sell food: fresh seafood, sweets, pickles, dried food, vegetables, and sushi. The market also known as “Kyoto’s kitchen” open from 9 am to 6 pm JST. I already had lots of fun looking around the market and the unique food sold there. But of course I also tried lots of snacks there: tako-tamago (baby octopus and egg; 300 JPY), lemon seared salmon (200 JPY for 1 skewers), honesenbei (eel bones chips; 150 JPY for 1 pack); dango, and grapefruit juice. For me the most interesting dishes was tako-tamago and the grapefruit juice (they squeezed the inside part of the grapefruit and use the peel as glass).

Tujuan pertama saya adalah Nishiki market yang terletak hanya 10 menit dari capsule hotel tempat saya menginap. Nishiki Market (錦市場, Nishiki Ichiba) adalah jejeran pertokoan sepanjang 5 blokberisi lebih dari 100 toko yang menjual berbagai jenis makanan: seafood segar, kue-kue, acar, makanan kering, sayur, dan sushi. Pasar yang dikenal sebagai “dapur Kyoto” ini buka mulai dari pukul 09.00-18.00 JST. Melihat-lihat suasana pasar dengan berbagai panganan khas sudah cukup menarik bagi saya, tapi tentu tidak lengkap tanpa mencobanya sendiri. Saya mencoba tako-tamago (bayi gurita yang kepalanya diisi telur puyuh; 300 JPY), salmon lemon (1 tusukan sate 200 JPY) , honesenbei (tulang belut yang digoreng kering menjadi keripik; seplastik 150 JPY), dango, dan jus jeruk bali (grapefruit). Makanan yang paling menarik buat saya adalah tako-tamago yang tidak pernah saya temukan di daerah lain di Jepang  (plus enak banget) dan juga jus jeruk bali yang dijus langsung di dalam kulitnya. 

imgp7081

 

By the end of the alley you can find a small shrine, Nishiki Tenman-gu. This shrine built on 1003 and originally named Kanki-ji, enshrined the god of learning Sugawara-no Michizane. But rebuilt on this location and named Nishiki Tenman-gu on 1587. Since early in the morning, even before the stores opened, this shrines full of people  It is said the water from this shrine well is a highly clear water and that is the reason they buit the food market near the shrine area, because of the clear water.

Diujung daerah pertokoan anda dapat menemukan kuil kecil, Nishiki Tenman-gu. Kuil ini dibangun pada tahun 1003 dengan nama asli Kanki-ji, untuk menghormati dewa pengetahuan Sugawara-no Michizane, namun dibangun kembali di lokasi ini dengan nama Nishiki Tenman-gu pada tahun 1587. Sedari pagi, bahkan sebelum pertokoan Nishiki market dibuka, kuil ini ramai didatangi orang-orang. Konon air dari sumur di kuil ini sangat jernih dan menjadi alasan pasar Nishiki dibangun di wilayah ini.

imgp7065

 

Next we heading to the golden temple Kinkaku-ji (金閣寺, Golden Pavilion) in the northern Kyoto. The zen temple used to be the shogun (military leader whose de facto ruled the country appointed by the emperor) residence: Ashikaga Yoshimitsu. Following the death of the shogun on 1408, the place became  a temple. The interesting feature of this temple is the 2stairs pavillion covered by the gold leaf. The word kin (金) itself litteraly means ‘gold’. The pavillion inspired another temple, the silver temple Ginkaku-ji (Gin 銀 means silver). You can also enjoy the beautiful garden and pond surrounding the golden pavillion. This temple is one of the best place to enjoy autumn foliage in Kyoto area.

Berikutnya kami menuju kuil emas Kinkaku-ji (金閣寺, Golden Pavilion) yang terletak di wilayah utara Kyoto. Kuil zen ini dulunya merupakan kediaman shogun (pimpinan militer yang mengatur mengatur negara secara de facto dan ditunjuk oleh Kaisar) Ashikaga Yoshimitsu. Sesuai wasiat sang shogun, kediamannya dijadikan kuil setelah ia meninggal pada 1408. Kuil ini menjadi salsah satu landmark terkenal Kyoto. Ciri menarik dari kuil ini adalah bangunan 2 tingkat yang keseluruhan dindingnya dilapisi emas. Kata kin (金) sendiri memiliki arti emas. Bangunan ini menginspirasi Ginkaku-ji yang dilapisi perak (Gin 銀 memiliki arti perak). Tidak hanya itu, taman bergaya Jepang di kompleks Kinkaku-ji juga sangat indah dan menjadi destinasi utama turis untuk menikmati warna musim gugur.

imgp7129

 

After  enjoying the color of autumn we’re heading to Arashiyama (嵐山) on the western part of Kyoto. I think you need to spare 3/4 or 1 full day in Arashiyama. It has many interesting places to explore: Togetsukyo Bridge, Monkey Park, Saga-Toriimoto which has lots of Meiji era buildings, Tenryuji Temple, Saga sightseeing train, and Hozu river boat tour. But because of time limitation I only visit Arashiyama bamboo forest and the kimono forest. In my honest opinion, the bamboo forest has the same vibes as Bogor Botanical Garden in Indonesia. The bamboo is a pathwalk leads to Nonomi shrine.

Setelah menikmati pemandangan dedaunan merah musim gugur kami beranjak ke Arashiyama (嵐山) di wilayah Barat Kyoto. Idealnya jika ingin menikmati suasana anda perlu waktu 3/4 hari atau 1 hari penuh di sini. Arashiyama memiliki berbagai destinasi menarik, mulai dari Togetsukyo Bridge, Monkey Park, Saga-Toriimoto yang berisi bangunan khas periode Meiji, Tenryuji Temple, kereta wisata Saga, dan Tur sungai Hozu dengan perahu. Banyak juga yang menyarankan menyewa sepeda untuk berkeliling Arashiyama. Namun karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat mengunjungi hutan bambu dan “hutan” kimono. Arasahiyama bamboo forest menurut saya mirip kebun raya Bogor. Jalanan yang dipenuhi bambu di kanan-kirinya merupakan akses menuju kuil Nonomiya.

 

Located only 5 minutes from the bamboo forest we could find the Randen-Arashiyama tram station or widely known as “kimono forest”. This station redecorated by Japanese designers Yasumichi Morita with the idea of “give a fresh air to the station while still keeping the old tradition”. As much as 600 pillars filled with traditional patterns fabric installed all over the station. If you want to have a relaxing time after walking around the city, you can enjoy the snacks from the food stalls there or dip your tired feet on the foot-bath onsen. The 2 meters high pillars will be light up from 5 pm. Giving scenic view of 2 lines of kimono “forest”. Other than that, this is the first time I seen tram in Japan. It used to be the main transportation all over Japan, but many of tram lines destroyed post-war. I used the cute purple colored tram to go back to Kyoto station (change to JR lines in katabiranotsuji station).

Hanya dengan berjalan kaki 5 menit dari hutan bambu kami sampai di stasiun tram Randen-Arashiyama atau lebih dikenal sebagai “Hutan Kimono”. Stasiun ini di dekorasi ulang oleh designer Yasumichi Morita dengan mengedepankan nilai budaya Kyoto. Sebanyak 600 pilar berisi kain motif tradisional dipasang di stasiun ini. Jika anda ingin beristirahat sejenak setelah berjalan keliling arashiyama, ada banyak jajanan di stasiun ini dan juga foot-bath onsen yang dapat anda gunakan. Pilar-pilar dekorasi setinggi 2 meter akan menyala saat matahari mulai terbenam memberikan aksen yang sangat cantik. Ini pertama kalinya saya melihat tram di Jepang. Dulu tram merupakan transportasi utama di Jepang namun pasca-perang banyak jalurnya yang hancur. Sayapun mencoba menggunakan tram lucu berwarna ungu untuk kembali ke stasiun kyoto (transit ke jalur JR di stasiun katabiranotsuji).

imgp7166imgp7185

imgp7178
I don’t want to muffed my autumn trip in Kyoto, so I directly went to my last destination: Kiyomizu-dera temple which located on Mount Otowa. It located on the half peak of the mountain, giving the best view of the surrounding area from the top. I could see the city light up and also kyoto tower from Kiyomizu-dera. 3 times in a year: during the peak of spring, summer, and autumn they have an illumination night. The red leaves and trees illuminated giving an amazing scenery. With entrance fee 400 JPY, I highly recommend you to see it if you visit Kyoto during autumn. When climb down the temple complex I found a small food stall and try the amazake. Amazake made from rice fermentation mixed with ginger and sugar, perfect to warm yourself after going up the temple 😀

Memanfaatkan waktu musim gugur di Kyoto dengan sebaik mungkin, saya melanjutkan perjalanan dari stasiun kyoto ke destinasi terakhir saya: Kuil Kiyomizu-dera. Kiyomizu-dera terletak di gunung Otowa. Lokasinya yang cukup tinggi memberikan pemandangan yang sangat indah. Anda dapat melihat kota kyoto dan menara kyoto dari sini. Pada musim semi, panas, dan gugur akan ada malam khusus di mana mereka mengiasi dan menyinari pepohonan di sekitar komplek kiyomizu-dera sehingga terlihat cantik. Biaya masuk saat illumination night 400 JPY tapi anda tidak akan menyesal dengan pemandangan yang anda dapatkan. Di perjalanan turun (masih di dalam kompleks kuil) saya menemukan kedai kecil. Cobalah amasake (minuman dari fermentasi beras yang dicampur jahe dan gula) di sana, sangat cocok untuk menghangatkan diri setelah perjalanan seharian ini 😀

imgp7261

img_1731

 

DAY 3 ITENERARY (find the official website links below; some in Japanese please turn on auto translate in your browser)

 

 

 

Advertisements